Usai Kajian Subuh, Jamaah Masjid Al-Muhajirin Salo Tanam Pohon: Menanam Kebaikan untuk Generasi Mendatang

HomeDaerahKab. Kampar

Usai Kajian Subuh, Jamaah Masjid Al-Muhajirin Salo Tanam Pohon: Menanam Kebaikan untuk Generasi Mendatang

Salo, Auraperjuangan.com — Matahari baru saja menampakkan cahaya keemasannya dari ufuk Timur ketika sejumlah jamaah Masjid Al-Muhajirin Salo mulai bergerak ke halaman samping masjid, Minggu (26/7/2026).

Pagi itu, mereka sebenarnya bisa saja langsung pulang setelah mengikuti salat Subuh, kajian, dan sarapan bersama yang rutin dilaksanakan setiap Ahad. Namun, pagi itu langkah mereka belum berhenti.

Di tangan mereka ada bibit pohon mangga dan rambutan.

Tanah di samping masjid mulai digali. Satu per satu bibit ditanam dengan penuh kesungguhan. Para jamaah bersama Penyuluh Agama KUA Kecamatan Salo dan mahasiswa KKN UIN Suska Riau bahu-membahu mengubah sebidang tanah di lingkungan masjid menjadi ruang hijau yang kelak diharapkan memberi manfaat bagi banyak orang.

Tidak ada kemewahan dalam kegiatan itu. Hanya cangkul, tanah, bibit tanaman, dan semangat untuk berbuat sesuatu yang mungkin hasilnya baru akan dirasakan beberapa tahun mendatang.

Namun justru di sanalah nilai perjuangan itu terlihat.

Mereka menanam hari ini, meski belum tentu mereka yang akan menikmati buahnya nanti.

Penanaman bibit buah-buahan tersebut merupakan implementasi program Ekoteologi yang digagas Kementerian Agama Republik Indonesia. Program ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Bagi para Penyuluh Agama KUA Kecamatan Salo, pesan agama tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar. Ia harus hadir dalam kehidupan nyata, termasuk melalui tindakan sederhana menjaga dan merawat alam.

Pagi itu, suasana semakin bermakna karena kegiatan penanaman pohon berlangsung bersamaan dengan kegiatan keagamaan.

Ustadz Anwar Efendi, Kepala KUA Kecamatan Kuok, hadir mengisi wirid pengajian yang diamanahkan pengurus Masjid Al-Muhajirin. Melalui pengajian tersebut, jamaah diajak memperkuat pemahaman agama agar kehidupan sehari-hari senantiasa berada dalam tuntunan ajaran Islam dan mendapat ridha Allah SWT.

Usai pengajian, pesan-pesan agama seolah menemukan bentuknya di halaman masjid.

Jamaah tidak hanya mendengarkan tentang pentingnya berbuat kebaikan, tetapi langsung mengerjakannya.

Tangan yang sebelumnya terangkat dalam doa, kemudian menyentuh tanah. Lubang digali, bibit ditanam, tanah kembali ditutup, dan tanaman kecil itu ditegakkan agar kelak tumbuh menjadi pohon yang kuat.

Ketua Pengurus Masjid Al-Muhajirin, Ustadz Mudarus, didampingi Ustadz Yusrin, Yulisman dan sejumlah jamaah lainnya, menyambut baik kegiatan tersebut.

Menurutnya, penanaman bibit buah-buahan memiliki manfaat bagi kelestarian lingkungan. Lebih dari itu, buah yang kelak dihasilkan juga dapat dinikmati masyarakat.

Ada sebuah kesadaran sederhana dari apa yang dilakukan jamaah pagi itu: kebaikan tidak selalu harus dinikmati oleh orang yang mengerjakannya.

Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru berbuah ketika anak-anak yang menyaksikan kegiatan tersebut telah tumbuh dewasa. Ketika itu terjadi, mungkin mereka tidak lagi mengingat siapa yang menggali tanah dan siapa yang pertama kali menanam bibitnya.

Tetapi manfaatnya akan tetap ada.

Koordinator Penyuluh Agama KUA Kecamatan Salo, Umi Gusmawati, mengatakan penanaman bibit buah-buahan tersebut merupakan wujud komitmen Penyuluh Agama KUA Kecamatan Salo dalam mendukung program Ekoteologi Kementerian Agama Republik Indonesia.

Gerakan tersebut bahkan direncanakan terus dilanjutkan di rumah-rumah ibadah lainnya di wilayah Kecamatan Salo.

«“Penyuluh Agama KUA Kecamatan Salo akan melaksanakan penanaman bibit buah-buahan di seluruh rumah ibadah di wilayah Kecamatan Salo yang diminta oleh pengurus. Kami telah menyiapkan 150 batang bibit buah-buahan hasil sinergi dengan PT EMP Gandewa dan Komunitas Pecinta Lingkungan Kabupaten Kampar,” ungkap Gusmawati.»

Sebanyak 150 batang bibit buah-buahan itu menjadi bagian dari ikhtiar panjang. Sebab menanam pohon bukanlah pekerjaan yang selesai ketika bibit masuk ke tanah.

Setelah itu masih ada pekerjaan yang jauh lebih panjang: merawat, menyiram, menjaga dan memastikan tanaman itu bertahan hidup.

Begitu pula dengan perjuangan menjaga lingkungan.

Ia membutuhkan kesabaran.

Ia membutuhkan kebersamaan.

Dan yang paling penting, ia membutuhkan kesadaran bahwa bumi bukan hanya milik generasi hari ini.

Pagi di Masjid Al-Muhajirin Salo akhirnya tidak hanya meninggalkan cerita tentang kajian Subuh dan sarapan bersama.

Ia meninggalkan sesuatu yang lebih nyata.

Bibit-bibit kecil kini tumbuh di halaman masjid, membawa harapan bahwa kelak tempat itu bukan hanya menjadi ruang yang teduh untuk beribadah, tetapi juga tempat masyarakat menikmati manfaat dari pohon yang pernah mereka tanam bersama.

Mungkin hari ini pohon-pohon itu masih kecil.

Belum rindang.

Belum berbuah.

Tetapi seperti kebaikan, sebuah pohon tidak dinilai dari ukurannya ketika pertama kali ditanam.

Ia dinilai dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikannya setelah tumbuh.

Dan pagi itu, di halaman Masjid Al-Muhajirin Salo, para jamaah, Penyuluh Agama dan mahasiswa KKN sedang melakukan satu hal sederhana yang penuh makna:

menanam pohon untuk kehidupan, menanam kepedulian untuk lingkungan, dan menanam harapan untuk generasi yang akan datang.

Oleh: Adi Jondri Putra

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: